Contoh Soal Menerangkan Sifat-Sifat Tokoh dari Kutipan Novel Beserta Kunci Jawabannya

Kompetensi Dasar: Menerangkan sifat-sifat tokoh dari kutipan novel

A.    Soal Piliah Ganda

Pilihlah jawaban yang tepat!

1.    Dengan demikian setelah berumur delapan tahun, berulah Corrie tahu bangku sekolah. Setamatnya di sekolah rendah, bimbang pulalah hati ayahnya antara mengirimkan dia ke Padang ke sekolah Mulo atau Betawi ke HBS. Dengan mudah Corrie menempuh kedua ujian buat masuk di terima di sekolah-sekolah itu, tapi sebab kebimbangan ayahnya, yang tak sampai hati buat bercerai dengan anaknya, hilang pulalah waktu dua tahu. Di dalam tahun yang kedua itu Corrie tinggal saja di rumah ayahnya. Itulah sebabnya maka setelah berumur enam belas tahun, berulah Corrie bercerai dengan ayahnya di pelabuhan Teluk Bayur, buat berlayar ke Betawi.
(Abdul Moeis, Salah Asuah)
Watah tokoh yang tepat sesuai dengan kutipan novel di atas adalah . . .
a.    Corrie anah yang manja dan enggan berpisah dengan ayahnya.
b.    Corrie anak yang  nakal karena korban perceraian orang tua.
c.    Seorang ayah yang bimbang hari karena enggan berpisah dengan anaknya.
d.    Seorang ayah yang tega bercerai demi seorang Corrie.

2.    Sri sedang berpindah tempat mengikuti suami yang diplomat itu. Sri mulai mengerti kelakukan suaminya yang lekas marah, keras lagi egois. Pertengkaran pun sering terjadi. Sri yang semula seorang wanita lembut dan penurut akhirnya menjadi wanita yang keras dan pembantah. Sri dan suaminya hendak berlibur ke Perancis. Charles memutuskan bahwa mereka akan berangkat dari Jepang. Setelah sampai di Saigon mereka berpindah. Charles melepas isteri dan anaknya dengan sebuah kapal ke Marceille. Charles hendak singgah dulu di India.
(NH. Dini, Pada Sebuah Kapal)
Watak para pelaku yang tepat sesuai dengan penggalan novel di atas adalah . . .
a.    Sri seorang wanita yang lembut dan penurut.
b.    Charles berwatak keras dan tidak punya pendirian.
c.    Sri seorang wanita yang lekas marah dan egois.
d.    Charles egois, tetapi pandai mengambil hati isteri dan anaknya.

3.    Sejak dahulu Andy memang jahat. Ia memaksa Aston menyerahkan kunci mobil kantor pada suatu malam untuk dipakai gila-gilaan. Esoknya, Aston kena marah sebab mobil itu ditemukan menabrak orang sampai mati. Karena mobil kantor, majikan Aston kena getahnya. Aston juga mendapat peringatan keras. Sejak itu Aston sama sekali tidak berani memberikan kunci kepada Andy. Andy marah, lalu berusaha memfitnah Aston.
Andy dalam penggalan novel tersebut berwatak . . .
a.    Sosial
b.    Bijaksana
c.    Ceroboh
d.    Bandal

4.    Joni masih memakai pakaian kerjanya tadi siang. Ia mempersialakan orang-orang itu untuk mengganyang makanan dan kopi. Lalu ia menjelaskan maksudnya. Tatang mondar-mandir saja sehingga Joni terpaksa membentaknya. Ia kemudian menggabungkan diri dengan orang banyak meskipun kelihatan terpaksa sekali.
(Putu Wijaya, Pabrik)
Amanat yang dapat dipetik dari penggalan novel tersebut adalah  . . .
a.    Kita harus ramah terhadap semua orang.
b.    Kita harus rajin bekerja siang dan malam.
c.    Kita harus berani bertindak terhadap orang yang suka mengganggu.
d.    Kita harus dapat bergabung dengan semua orang.

5.    Aku tidak akan pernah mundur meskipun seribu rintangan menghadang. Aku akan tetap maju ke depan.
Perwatakan tokoh “aku” dalam kutipan tersebut adalah . . .
a.    Pantang menyerah
b.    Penakut
c.    Sembrono
d.    Egois

B.    Soal Essay
Kerjakan soal-soal berikut!
Kutipan novel berikut untuk soal nomor 6 dan 7.

MEME!....Meme!....”

Suara Luh Sari membuat Telaga melotot.

“Luh, Meme sering berkata, kan? Jangan sering berteriak. Masuk dulu, baru bercerita.” Telaga menepuk pipi bocah perempuan kecilnya. Bocah itu tersenyum, lalu duduk di pangkuan ibunya. Keringat di kening diusapnya hatihati. Tangannya yang mungil menyentuh pipi ibunya.

“Apa yang luh bawa hari ini? Hadiah lagi?”

“Ya. Tadi ada lomba membaca cepat di sekolah.”

“Semua ini hadiahmu? Banyak sekali.” Telaga menarik napas sambil membelai rambut bocah perempuannya.

“Ya.” Luh Sari membulatkan bola matanya. Berusaha meyakinkan perempuan di hadapannya. “Ini semua dari penilik sekolah. Dia gagah sekali, Meme. Baik. Sayangnya dia tidak pernah mau mendekati Sari. Padahal Sari sering mencuri perhatiannya. Meme tahu, Sari pernah mencuri mencium tangannya. Laki-laki itu melotot dan menatap Sari dengan pandangan yang aneh. Lucu, ya?” luh Sari tertawa geli. Lalu berputar sambil melempar tinggi-tinggi bungkusan yang ada di tangannya. Rok bocah itu naik, memperlihatkan kedua kakinya yang mungil. Kaki itu terlihat sangat indah.

Mata Telaga berair. Kalau saja bocah kecil itu tahu siapa laki-laki yang sering digodanya itu, Sari pasti akan girang, lalu berteriak sepuasnya menceritakan pada seluruh misan-misannya bahwa dia adalah anak perempuan baik-baik. Keturunan orang terhormat. Telaga menarik napas, hanya bocah inilah yang membuatnya tetap ingin hidup.

Luh Sari terus meloncat-loncat kegirangan. Tawa segarnya membuat Telaga dibawa ke alam yang membuatnya hanyut. Sari memeluk kaki ibunya. Keringatnya memenuhi punggung. Pelan-pelan ia kembali duduk di pangkuan ibunya. Kakinya digoyang-goyangkan, bibirnya tak henti-henti mencium pipi Telaga. Ditatapnya mata ibunya yang lembab itu, ditepuknya pipi Telaga dengan jari-jarinya yang kecil. Telaga menggenggam tangan itu, lalu diciumnya penuh perasaan. Bocah perempuan itu tersenyum, dipeluknya Telaga erat-erat. Matanya semakin terlihat menarik. Bocah tujuh tahun ini benar-benar menggemaskan. Rasanya, Telaga ingin mencubit pipinya yang gembul dengan keras, lalu menarik hidung bagirnya sampai merah.
Telaga sangat berharap, kelak bocah ini mampu memberinya tempat. Telaga juga berharap anak perempuannya akan menjelma menjadi penari tercantik di desa ini. Penari yang memiliki seluruh kecantikan dewa tari.

“Apa lagi yang Sari inginkan?” Telaga mencium pipi anaknya hati-hati.

“Sari akan belajar dengan baik, Meme. Kalau Sari besar nanti, kita tinggalkan Odah. Meme bisa hidup dengan Sari. Sari bisa membuatkan Meme rumah yang bagus. Ada tamannya, Meme bisa menanam bunga-bunga sampai muntah. Meme bisa....” Luh Sari terus mengemukakan keinginankeinginannya. Suara bocah itu membuat Telaga diam.

Bocah tujuh tahun itu telah diajarinya menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Bocah yang harusnya bisa dijaga dengan baik. Bocah yang tidak melihatnya terus-menerus menderita. Telaga terus memaki dirinya, menghujat dan luka itu semakin membuatnya tenggelam dalam kubangan rasa sakit. Dia seperti bertarung dengan dirinya. Bertarung dengan impian-impian yang pernah dia tanam dalam perjalanannya menjadi perempuan yang sesungguhnya. Perempuan yang mencoba mengikuti kejujuran hatinya, bahwa pilihan yang dilakukan dalam hidupnya adalah benar. Aneh, setiap dia ingin meyakinkan dirinya sendiri tubuhnya menggigil.
Masa lalu itu tiba-tiba saja meloncat dari otaknya.
(Sumber: Oka Rusmini, Tarian Bumi, Indonesia, Tahun 2004 dalam BSE Membuka Jendela Ilmu Pengetahuan Bahasa dan Sastra Indonesia 3 SMP/MTs Kelas IX, Dwi Hardiningsih, Bambang Wisnu, Septi Lestari, Jakarta, Pusaat Perbukuan Depdiknas, 2008)
6.  Bagaimanakah sifat tokoh berikut?
a. Luh Sari
b. Telaga

7.  Sebutkan bukti sifat-sifat tersebut dengan menyebutkan kalimat yang mendukung!

Kunci Jawaban: KLIK DI SINI

Sumber: Buku Panduan Pendidik Bahasa Indonesia Kelas 9, JP Books

Artikel Terkait

Basindon
Bahasa Indonesia BlogUpdated at: Wednesday, August 17, 2016

No comments:

Post a Comment

"Terima Kasih Atas Kunjungan Anda"